BERPEGANGLAH PADA DIDIKAN, JANGANLAH MELEPASKANNYA, PELIHARALAH DIA, KARENA DIALAH HIDUPMU...Amsal 4:13

Friday, June 26, 2009

DEMOKRASI

Oleh TY

Menghadapi pilpres 8 Juli mendatang, suhu politik Indonesia memang panas. Namun bagi para elit, terutama ketiga pasangan capres-cawapres tidak ada persoalan. Walau ada perbedaan pendapat diantara mereka, tapi mereka tidak memperlihatkan permusuhan.
Bahkan dalam bertutur kata, mereka sangat menjaga sopan santun. Itulah yang kita lihat baik di televisi maupun di media-media cetak.

Persoalan bertambah runyam justru di tingkat masyarakat yang menjadi basis massa dari ketiga capres-cawapres tersebut.
Banyak bentuk kampanye negative justru dikembangkan masyarakat di kelompok ini. Setiap hal yang kurang baik dari ketiganya selalu menjadi buah bibir atau tema pokok pembicaraan mereka sehari-hari. Mulai dari teras rumah hingga warung kopi.
Itu fakta. Mereka memang bicara apa adanya. Tapi apa yang mereka bicara itu bukanlah fakta.
Mereka lebih senang membicarakan gossip. Mulai dari isu neolib hingga pelanggaran HAM berat. Itu bumbu sedap saat nongkrong di warung kopi.
Saat ini tidak ada lagi hal yang seru diomongkan, kecuali gossip para kandidat pemimpin bangsa tersebut. Padahal secara umum, masyarakat juga sudah tahu, terutama para kaum intelek dan terpelajar. Rekam jejak ketiga capres dan cawapres tersaji baik di buku-buku.
Singkat kata, mereka semua sudah punya biografi masing-masing. Di situ cukup terekam hitam putih perjalanan mereka.
Jadi kalangan akademisi dan intelektual tak perlu lagi ngerumpi soal mereka. Sebab sudah punya pilihan masing-masing. Bentuk-bentuk propaganda warung kopi tak mempengaruhi pilihan mereka lagi.
Nah, bagi saya yang cukup ngelikan justru kini para tim kampanye atau katakanlah tim suksesnya yang turut membumbui cerita warung kopi tersebut.
Hemat saya yang sedikit mengerti dengan pola komunikasi dan propaganda, untuk ukuran masyarakat kita yang sudah ‘berpengalaman’ dengan pemilihan langsung (pilkada, pilgub, pileg dan pilpres), bumbu negative dan propaganda itu justru blunder bagi kubu yang meniupnya.
Apalagi isu yang ditiupkan itu bertolak belakang dengan rekam jejak masing-masing kandidat. Tentu setiap kandidat juga gencar mengkampanyekan pencitraan yang baik tentang pribadi mereka.
Nah, bila tim sukses tetap mempertahankan propaganda negative tentang figure capres dan cawapres tertentu, maka siap-siap saja ditinggal pemilihnya. Sebab siapa pun yang meniupkan aroma buruk tentang seseorang, ia akan menuainya sendiri.
Ingat, setiap kata yang terlontar itu di dengar oleh Tuhan. Sebab Tuhan tidak pernah tidur dan ada di mana-mana. Bila bicara tanpa fakta dan propaganda belaka, tentu Tuhan sendiri akan marah. Apalagi kita manusia yang punya keterbatasan, tentu akan lebih marah lagi.
Jadi kalau mau damai, berdamailah dengan diri sendiri dengan menghindari kata-kata kotor dan mengantikannya dengan kata bijak dan santun. Sebab siapa pun yang memimpin kelak, ia tetapkan Presiden Indonesia, bukan presiden partai A, partai B, suku C dan bangsa D.
Abjad saja ABCD agar bisa merangkai kata. Jadi tidak ada yang sama di dunia ini, dan itulah DEMOKRASI.

Baca Selengkapnya..

Ketika Air Payau

Oleh TY

Aneh tapi nyata. Itulah yang dirasakan masyarakat Kota Pontianak.
Kota yang berdiri di atas air, justru masyarakat Kota Pontianak kerap kesulitan air, terutama air yang layak untuk dikonsumsi.
Selama bertahun-tahun, sebagian besar masyarakat mengandalkan air hujan untuk dikonsumsi. Tapi bila kemarau tiba, bagi keluarga yang tidak memiliki persediaan air cukup, maka akan kesulitan mendapatkan air bersih.

Bagi yang berduit, tak masalah, bisa membeli dari mobil tangki. Tapi bagi masyarakat kebanyakan, air bersih betul-betul menjadi masalah utama.
Tak heran, setiap musim kemarau tiba banyak warga yang terserang diare. Dan diare itu salahsatu penyebabnya adalah karena air yang dikonsumsi tidak layak.
Kini memasuki musim kemarau, air ledeng yang selama ini terpaksa dikonsumsi masyarakat mulai terasa payau. Di mana-mana warga mulai merasakan air asin.
Karena tak ada pilihan, masyarakat tetap saja menggunakan air ledeng yang di suplay dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Pontianak.
Air ledeng tak layak konsumsi itu juga diakui langsung Direktur PDAM, Agus Sutyoso.
Air yang dialirkan ke rumah-rumah tersebut kandungan garamnya sudah melebihi ambang batas, yakni minimal 800 PPm (part per million).
Air payau tersebut akibat kandungan garam air Sungai Kapuas sebagai bahan baku utama terintrusi air laut sebesar 2.000 PPm. Itu terjadi akibat kemarau dan tidak adanya dorongan air dari hulu sungai.
Memang sekarang di perhuluan sungai juga terjadi pendangkalan. Bahkan beberapa dasar sungai sudah timbul, sehingga anak-anak dapat bermain bola di atasnya.
Kondisi air payau tersebut, tak tertutup kemungkinan ada beberapa warga yang terpaksa mengkonsumsinya. Padahal air PDAM itu hanya bisa digunakan untuk mandi, cuci dan kakus (MCK) saja.
Dan itu sebuah ironi bagi warta Kota Pontianak. Sebab setiap tahun selalu saja kita mengalami krisis air bersih, utamanya air yang layak konsumsi.

Baca Selengkapnya..

Tuesday, June 16, 2009

Bayi Kembar Siam


Oleh TY

Untuk pertama kalinya, Rumah Sakit Umum Daerah dr Soedarso Pontianak menangani kasus persalinan bayi kembar siam.
Bayi yang berkelamin perempuan tersebut dempet di bagian perut (omphalopagus satu persen) memiliki satu kantung empedu dan satu hati (liver).
Pihak rumah sakit mengatakan, sejak lahir lewat operasi cesar, bayi dalam kondisi sehat.

Kini bayi dengan berat 5,2 kilogram dan panjang 48 centimeter masih dalam perawatan pihak rumah sakit. Keduanya dirawat di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) ruang perawatan perinatal RSUD dr Soedarso Pontianak.
Sementara sang ibu, Rusmiati (36), masih dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) untuk memulihkan kondisi karena cukup banyak mengeluarkan darah mengingat ukuran bayi yang dilahirkan terbilang besar.
Nah, untuk kasus bayi kembar siam yang cukup langka di Kalbar ini, apakah bisa ditangani dengan baik?
Sebab RSUD dr Soedarso belum ada pengalaman menangani operasi bayi kembar siam. Walau kini rumah sakit pemerintah terbesar di Kalbar ini sudah memiliki dokter spesialis bedah anak.
Kita juga tidak tahu bagaimana nasib keduanya, apakah bisa keduanya bisa diselamatkan, mengingat keduanya hanya memiliki satu empedu dan satu hati.
Secara logika, sulit rasanya menangani operasi yang sudah pasti rumit tersebut.
Rumah sakit Hasan Sadikin Bandung atau Rumah Sakit dr Sutomo Surabaya saja masih kesulitan menangani kayi kembar siam. Walau keduanya sudah memiliki reputasi dalam operasi bayi kembar siam.
Nah, kita tunggu saja, apakah para dokter yang kita miliki yang sudah memegang label spesialis bedah anak bisa mengatasi bayi kembar siam di RSUD dr Soedarso tersebut?
Butuh waktu memang, dan kita juga tidak boleh meremehkan mereka. Apalagi RSUD dr Soedarso merupakan rumah sakit terbesar milik pemerintah, pastilah juga dilengkapi dengan peralatan yang canggih pula.
Yang jelas, bila bayi kembar siam itu bisa ditangani dengan baik. Maka para dokter yang menanganinya akan dicatat dengan tinta emas, sebab mereka juga sudah disejajarkan kemampuannya dengan para dokter di rumah sakit umum Hasan Sadikin Bandung yang biasa menangani bayi kembar siam, atau rumah sakit umum dr Sutomo Surabaya.
Untuk sejajar dengan mereka itu mimpi memang. Tapi kadang, mimpi juga biasa menjadi kenyataan. Kita tunggu saja aksinya.

Baca Selengkapnya..

Sunday, June 14, 2009

Entahlah…

Oleh TY

Menjadi cerdas tidak berarti mengetahui segala jawaban. Terkadang, jawaban paling cerdas yang kita dapat katakan adalah “Entahlah”. Dan, jawaban itu bikin orang kesal, marah. Diperlukan rasa percaya diri dan kecerdasan extra untuk mengetahui sikap apatis kita. Dan saat kita melakukannya, kita sedang dalam proses mempelajari jawaban sesungguhnya.

Seringkali karena alasan kebanggaan dan mencegah rasa tidak aman, kita mengatakan tahu, padahal sebenarnya kita tidak tahu. Lewat cara ini, kita telah menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar lebih lanjut. Percayalah, tidak ada salahnya kita tidak mengetahui suatu hal. Daripada hasilnya konyol bagi kita maupun orang lain.
Bagian penting dari kebijaksanaan adalah mengetahui batas pengetahuan kita. Mengetahui apa yang kita tahu dan apa yang kita tidak tahu.
Orang yang benar-benar cerdas adalah orang yang tahu dan mengerti, bahwa tak semua pertanyaan dapat ia jawab. Orang yang benar-benar cerdas adalah orang yang mau bertanya, mau belajar dan mau berkembang.
Gunakan pengetahuan yang kita miliki, dan miliki pengetahuan yang kita perlukan. Itu adalah jalan terbaik yang kita bisa tempuh.
Untuk menuju ke sana, kita semua tahu jalannya. Dan jalan itu adalah pendidikan.
Pendidikan jembatan emas untuk menuju kesempurnaan hidup. Manusia sejak dalam kandungan sekalipun sudah dididik oleh orangtuanya lewat berbagai cara. Dan cara klasik yang sering digunakan adalah music.
Konon music bisa membentuk karakter dan kecerdasan seseorang sejak masih dalam kandungan. Terutama keseimbangan emosional seseorang.
Dan pendidikan itu berlanjut setelah ia dilahirkan. Ibarat kertas putih, anak yang baru lahir akan terbentuk karakternya oleh lingkungan. Dan orangtua punya tanggung jawab utama untuk memberikan warna dominan pada anaknya itu.
Walau akhirnya pendidikan yang mencerdaskan kita. Dan saya sendiri menempatkan pendidikan di tempat terhormat. Karenanya, Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu (Amsal 4:13). Tapi apakah itu suatu jawaban mengatasi kesulitan hidup dan kebodohan kita? Entahlah….

Baca Selengkapnya..

Wednesday, June 10, 2009

Eforia Pilpres

Oleh TY

Dalam nuansa eforia pemilu presiden dan wakil presiden (pilpres) 8 Juli 2009, sebagai rakyat kita semua dibuat pusing dengan berbagai pilihan yang ditawarkan oleh ketiga pasangan capres maupun tim kampanye masing-masing.
Bagi kader, pendukung maupun simpatisan mereka jelas sangat merasakan eforia politik lima tahunan itu. Tapi bagi kita yang memposisikan diri non partisan, jelas kita pusing tujuh keliling.

Pusing, bukan karena sulit menentukan pilihan terhadap salah satu capres pada hari H pilres kelak, tapi pusing memikirkan jargon-jargon yang didegungkan maupun progam-program yang diusung semua tidak masuk akal.
Sebagai rakyat, kita maunya yang praktis saja. Kita sudah capek banting tulang mencari makan setiap hari, jadi agak mustahil turut mencermati program-progam yang ditawarkan baik lewat televisi maupun Koran dan termasuk tim kampanye masing-masing kandidat.
Pasangan yang menawarkan ekonomi kerakyatan. Bentuknya juga belum jelas. Sementara bagi orang kampung, mungkin mereka lebih kenal credit union (CU) sebagai fisik dari ekonomi kerakyatan tersebut.
Kita patut khawatir, ekonomi kerakyatan itu tidak lebih hanya kekadar jargon belaka yang tanpa makna. Sebab mereka sendiri yang mengkoordinir, tidak mempraktikan ekonomi kerakyatan itu sendiri.
Apalagi memberi contoh konkrit ekonomi kerakyatan, oh tidak mungkin. Begitupun dengan pasangan yang menawarkan ekonomi jalan tengah semberi melanjutkan apa yang sudah berjalan sekarang.
Yang patut dipertanyakan, apa benda ekonomo jalan tengah itu, apakah kredit lunak yang tanpa agunan itu, sementara praktiknya bank tetap saja menuntut agunan?
Lalu ada lagi capres yang menjual kemandirian bangsa. Juga masih mimpi. Kalau soal kemandirian adalah cita-cita semua orang, tapi untuk bangsa kita ini rasanya seratus abad sekalipun masih sulit mendari. Kita sudah terlanjur biasa menjadi bangsa yang ‘disuap’ terus.
Nah, jargon-jargon seperti itu susah dicerna masyarakat kelas bawah yang mayoritas menjadi pemilih potensial kelak. Mereka tidak terpengaruh dengan berbagai bentuk jualan kempanye yang ditawarkan capres-cawapres maupun tim kampanyenya.
Masyarakat lebih senang menikmati apa yang bisa dinikmati hari ini, apa yang bisa dimakan hari ini. Soal pilihan, ya terserah siapa yang bisa memberi makan hari ini.
Maka tak salah banyak kalangan luar menilai bangsa kita masih sebagai bangsa yang ‘perasa’. Artinya, mereka lebih merasakan apa yang mereka liat langsung, terima langsung.
Sebagai ungkapan dari ‘perasa’ itu, orang juga menilai bangsa kita sebagai bangsa yang pandai berterima kasih. Maka sebagai wujud terima kasih terhadap apa yang dirasakannya secara langsung, maka pilihan suaralah taruhannya.
Singkat kata, siapa yang memberi dan dirasakan langsung masyarakat, maka dialah yang menjadi curahan suara masyarakat kelak. Dan itu bisa kita tebak sendiri, dari ketiga capres ini siapa yang lebih banyak memberikan program pro rakyat, dialah yang akan menerima manfaatnya. Ingat masyarakat kita belum bisa menilai figure, tapi mereka pandai menilai pemberitan.
Mereka juga pandai memeriahkan pesta demokrasi itu, tapi tak lebih dari sekadar eforia belaka. Ada yang meragukan? Mari kita buktikan bersama.

Baca Selengkapnya..

Sunday, May 31, 2009

Waspada Penyakit Musiman

Oleh TY

Siklus alami harus kita lewati setiap tahun. Di daerah kita, kita cukup mengenal dua musim, yakni musim hujan dan musim kemarau.
Masing-masing musim selalu disertai dengan persoalannya sendiri-sendiri.
Seperti sekarang ini, sudah ada tanda-tanda kita akan memasuki musim kemarau. Tandanya jelas, debit air sungai mulai berkurang, sumur-sumur warga mulai mengering. Cuaca panas di siang hari dan dingin di malam hari.

Kalau di kota seperti Pontianak, setiap musim kemarau ada persoalan lain, yakni kabut asap dan mewabahnya penyakit demam berdarah dengue (DBD).
Kabut asap disebabkan lahan kering yang terbakar, terutama daerah lahan gambut yang ketebalannya mencapai satu hingga dua meter. Apabila terbakar, api sulit dipadamkan sehingga terjadi kabut asap.
Dampaknya selain menyebabkan penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), juga mengganggu transportasi baik darat, laut maupun udara.
Pengalaman kita, bila terjadi kemarau panjang dan kabut asap mengganggu jarak pandang, maka jadwal penerbangan pewasat kerap kali ditiadakan. Itu jelas kerugian besar bagi perusahaan maskapai penerbangan.
Sementara DBD sebagai dampak dari datangnya musim kemarau, saat ini sudah memakan korban jiwa.
Menurut catatan Dinas Kesehatan Kota Pontianak, sampai kemarin, tercatat sudah lima pasien meninggal dunia.
Lima bulan terakhir tercatat 319 pasien DBD dirawat di 23 puskesmas, rumah sakit umum Daerah (RSUD) dr. Soedarso dan Rumah Sakit Santo Antonius.
Melihat fenomena penyakit menular yang datang bersamaan dengan datangnya musim, seharusnya kita sudah bisa waspada setiap memasuki setiap musim tersebut.
Paling tidak, upaya pencegahan DBD seperti melakukan "fogging" atau pengasapan dan pembagian abete kepada masyarakat untuk membunuh telur nyamuk Aedes Aegipty. Itu baru soal DBD, belum lagi muntaber dan penyakit lainnya.
Demikian juga dengan musim penghujan. Selain berhadapan dengan banjir yang sering menggenangi daerah-daerah tersebut di Kota Pontianak, juga muncul berbagai penyakit seperti gatal-gatal dan banyak lagi jenis penyakit musiman.
Nah, belajar dari siklus musim yang ada tersebut, kiranya cukup memberikan pelajaran dan pemahaman kita agar setiap tahun kita selalu siap menghadapi siklus musim tersebut.
Kita tidak ingin, setiap musim datang, datang pula penyakit dan musih. Tentu dengan pengalaman yang ada, kita sudah mengantisipasinya jauh-jauh hari.
Demikian juga dengan pemerintah, terutama dinas atau pihak terkait. Sudah harus bisa memprediksi penyakit sesuai dengan musim tadi.
Semuanya sudah tahu apa yang hendak dibuat bila menghadapi musim kemarau. Bukan hanya kabut asap yang meresahkan, tapi juga penyakit menular. Pun demikian dengan musim hujan, bukan hanya banjir yang menghayutkan, tapi juga penyakit yang menyerang secara mewabah.
Singkat kata, seperti siklus musim tadi, kita bisa mewaspadainya. Jadi jangan menunggu penyakit menyerang baru mencari obatnya. Tapi waspadalah, sebab kita sudah tahu kapan penyakit itu datang.

Baca Selengkapnya..

Peri Tiga Masa

Oleh TY

Sabtu (30/5) siang kemarin, sepulangnya dari sekolah, Vivi memutar DVD kumpulan film Cinderella. Walau tidak menonton, saya tetap nguping dialog dalam cerita itu.
Ada pelajaran menarik dari cerita itu. Dimana seorang ibu bercerita kepada anak gadisnya yang mulai mewariskan sifat-sifat buruk, sombong dan cerewat dalam keluarganya.
Nah, si ibu mengatakan dia bermimpi didatangi bibinya yang sudah meninggal dunia. Dalam mimpi itu bibinya menceritakan ada tiga Peri yang mewakili tiga masa waktu. Yakni Peri masa lampau, Peri masa kini dan Peri masa mendatang.

Peri adalah makhluk legendaris yang berasal dari negara-negara Skandinavia dan sering muncul dalam cerita-cerita kuno dari Eropa Utara. Dalam mitologi Nordik, Peri merupakan ras Dewa kesuburan, tinggal di tempat-tempat yang alami dan asri seperti gunung, hutan, telaga, mata air, dan air terjun. Mereka dilukiskan sebagai manusia yang selalu tampak muda dan cerah.
Dengan tongkat saktinya, Peri masa lampau membawa si bibi ke kehidupannya masa lalu, dimana bibi kembali menyaksikan masa kakak-kakaknya. Sejak kecil si bibi diajarkan dengan kata-kata kasar.
Slogan dalam keluarganya, “Di dunia orang egois, hanya yang egois yang bisa hidup senang.”
Tidak ada kata-kata cinta dan kasih sayang yang masuk ke kuping bibi kecil. Semuanya kata-kata kasar dan sombong. Hari-hari dipenuhi dengan sifat egois. Semuanya aku, ingin menang sendiri.
Baik dalam berteman, maupun dalam hal makan. Semua aku yang pertama, sisanya baru yang lain. Demikian juga hingga beranjak dewasa dan punya kekuasaan. Karyawan tidak boleh ada kesenangan. Tidak diperkenankan merayakan hari ulang tahun maupun sekedar melepas penat ngobrol bersama teman-teman maupun keluarga. Hari-hari diisi dengan kerja. Tidak ada libur maupun hari raya.
Begitu pun setelah ia meninggal, dibekali dengan pakaian mahal dan pemakaman mewah. Tapi begitu masuk ke dunia lain, ia justru terpasung dengan rantai di sekujur tubuhnya.
Siang malam dia kedinginan. Bahkan si bibi tidak sanggup menyaksikan rekam hidupnya yang di putar Peri tadi. Sangat bertolak belakang kehidupannya di dunia nyata dan dunia lain.
Berikutnya datang Peri masa sekarang. Bibi diajak menyaksikan kehidupannya setelah hidup mapan. Punya perusahaan besar, dan banyak karyawan. Semua kemewahan ada padanya. Tapi tindak tanduk dan gaya bicaranya sama persis dengan bibinya ketika seumur dia.
Gaya hidup sombong yang dirasakannya ketika masih kecil, seratus persen ditiru bibi ketika dewasa. Caranya berpakaian, gaya bicara maupun tidak tanduknya, mirip sekali. Bibi kecil betul-betul copy paste dari bibinya yang merawat dia ketika masih kecil.
Bibi sampai protes sama Peri mengapa memutarkan gaya hidup bibinya dengan hidupnya sendiri yang tidak ada beda sedikit pun. Tabiatnya yang teriak-teriak, usil, curiga dengan tetangga juga diikutinya.
Karena tidak terima dengan sifat bibinya yang kasar itu, dia pun teriak hingga terbangun dari tidurnya, eh ternyata mimpi.
Karena masih tengah malam, dia pun melanjutnya tidurnya. Kembali Peri ketiga yang datang, yakni Peri masa depan. Beri masa depan membawa bibi ke dunia lain lagi. Mungkin itu dunia pertobatan. Setelah memberikan cuplikan rekaman kehidupan masa lampau dan masa kini, peri ingin menunjukkan masih ada kehidupan yang lebih cerah di depan. Asal bibi mau merubah sikap dan membuang jauh-juah sifat buruk, angkuh, dan iri hati tadi.
Nah, disini Peri menunjukkan bagaimana bibi harus memberikan waktu istirahat kepada karyawannya. Sehingga karyawannya bisa berkumpul dan bersenang-senang dengan keluarganya pada hari minggu muapun hari-hari raya.
Dengan harta yang melimpah, bibi harus menyisihkan sedikit dari hartanya untuk anak-anak yatim piatu. Dengan demikian, maka semakin banyak orang yang memuji bibi dan mendoakan bibi. Kondisi itu memang bertolak belakang dengan sebelumnya, harta melimpah, tapi dimusuhi orang, dikucilkan orang.
Usai film tersebut saya mencoba menceritakan kepada Vivi anak saya, bahwa film ingin mengambarkan sifat seorang anak yang dilahirkan seperti kertas putih. Ia polos. Karenanya, ia akan menerima tulisan berbagai macam warna. Warna yang dominan itulah yang kelak dewasa membentuk kepribadiannya dan mewarnai sifat-sifatnya. Kalau warnanya cerah, maka sifatnya juga cerah, bila warnanya hiam, maka sifatnay juga akan hitam.
Sebab anak peniru ulung. Sebagai orang tua, papa mama akan menyayangi anak-anaknya bukan saja dengan kata-kata yang indah-indah, tapi juga dengan perhatian serta lingkungan yang baik pula untuk perkembangannya. Peri tiga masa tadi menjelaskan sifat manusia sejak dilahirkan, tumbuh dewasa hingga ia meninggal dunia. Kalau kecil hidup dengan kasih sayang, rendah hati, dengan penuh cinta, maka besar ia akan mencintai orang dan lingkungannya. Demikian juga bila ia meninggal, ia akan mendapatkan tempat yang bagus juga di surga. Itulah pelajarannya, Nak.

Baca Selengkapnya..

Wednesday, May 27, 2009

Siapa yang Busuk?

Oleh TY

Demokrasi tidak hanya melahirkan sikap yang pandai menghargai perbedaan pendapat. Tapi juga sikap keteladanan dari pihak-pihak yang turut dalam permaian pesta demokrasi itu sendiri.
Dalam alam demokrasi, kita bebas untuk melakukan apa saja, karena semua pihak sudah memahami itu dibolehkan. Namun juga kebebasan itu haruslah dibarengi dengan aturan main yang jelas pula.
Dan bagi kita bangsa Indonesia, aturan main itu sudah ada di UUD 1945 dan Pancasila. Jabarannya, sangat lugas dan jelas baik mengenai maksud maupun tujuannya. Makna pun mudah dicerna.

Itulah yang dikatakan oleh rezim Presiden Soeharto bebas bertanggung jawab. Sayang ketika itu, tanggung jawabnya lebih besar dari bebasnya, sehingga kita merasa terbelenggu. Semua kebebasan terlindas atasnama kekuasaan Negara, dalam hal ini simbolnya Soeharto sebagai presiden.
Setelah reformasi yang bergulir sepuluh tahun terakhir, kebebasan itu hampir-hampir kebablasan. Kebablasan, karena sudah keluar dari jalur atau koridor etika adat ketimuran kita. Terlebih dalam menghadapi pesta demokrasi sekarang ini.
Idealnya, dengan semakin baiknya demokrasi yang kita jalannya, makin banyak pelajaran yang bisa dipetik. Tapi buah demokrasi, politisi makin seenaknya menyerang dengan kampanye negatif. Mereka cenderung tidak senang dengan kampenye beretika dan santun.
Karena kampanye beretika dan santun itu, daya serapnya lamban di masyarakat, karena hampir-hampir tidak terasa. Tapi bila kampanye negatif, wah, dalam seketika efeknya sudah dirasakan masyarakat.
Apakah itu sebagai akibat masyarakat kita sudah tidak peka dengan hal-hal yang mengiring kita kepada kebaikan, dan cendrung menyenangi hal-hal negatif? Entahlah.
Sekarang kita akan menghadapi pemilu presiden. Dimana pilpres ini adalah kali kedua masyarakat memilih secara langsung, setelah 2004 silam.
Disini kita kembali diuji untuk memilih pemimpin yang betul-betul keberja untuk rakyat, bukan pemimpin yang mencari kekuasaan, mencari kedududukan. Dan ujung-ujungnya menggunakan kekuasaan itu untuk memperkaya dirinya dan melindungi bisnis keluarganya.
Terhadap ketiga calon presiden dan wakil presiden itu, tentu mereka semua punya rekam jejak masing-masing. Rekam jejaknya ada yang kelam, dan ada pula yang terang. Tapi memasuki masa kampanye yang sebentar lagi digelar, rekam jejak itu tidak lagi di lihat masyarakat.
Masyarakat cendrung melihat apa yang dibuatnya saat kampanye, apa yang ditebarnya di lapangan. Mental kita mental transaksional. Artinya, suara kita bisa diperjaulbelikan. Tidak ada lagi idealisme dalam menentukan pilihan.
Siapa yang banyak menabur uang, kesitulah mencurahkan suaranya.
Kita tidak lagi melihat figure yang layak dan memang terbaik dari yang ada itu, tapi kita lebih melihat apa yang dirasakan hari ini, apa yang diterima tadi.
Singkat kata, bukan salah calon capres-cawapres, tapi kita pemilihlah yang mau mengadaikan suara kita. Padahal suara itu sangat berharga untuk kemaslatan orang banyak. Bila dulu ada istilah politisi buruk, sekarang justru berubah, pemilihnya yang busuk.
Celakanya lagi, setelah tidak memilih dengan benar, lantang pula mencibiri kebijakan yang salah itu. Menghujat seenaknya.
Harapan kita, itu semua bisa dihindari. Sebab kita sudah cerdas dalam menentukan pilihan. Kita juga tidak mau pesta demokasi ini, justru menjadi ajang untuk membusukkan diri. Jangan sampai deh!

Baca Selengkapnya..

Tuesday, May 26, 2009

Dayak di Dunia Maya

Oleh TY

Pekan Gawai Dayak (PGD), memang sudah masuk kalendar pariwisata Kalimantan Barat. Pelaksanaannya pun rutin setiap tahun, setiap tanggal 20 Mei.
Bagi masyarakat Dayak sendiri PGD bukan barang asing lagi, tapi sudah menjadi tradisi.
Ada yang lain, kalau PGD sempat tidak dilaksanakan. Itu maklum saja, sebab PGD 2009 ini merupakan gawe yang ke-XXIV. Artinya, gawe syukuran pesta panen padi itu sudah 24kali dilaksanakan secara terorganisir.

Sebelumnya, tradisi gawe atau gawai syukuran atas panen padi yang melimpah dilaksanakan berdasarkan tiap-tiap sub suku Dayak. Agar pelaksanaanya bermanfaat baik dari segi pelaksanaan maupun tradisi yang bisa dipelajari dan diwariskan ke anak cucu, maka gawe itu modernisasikan dengan tidak menghilangkan makna dan metode pelaksanaanya, dan tempatnya di pusatkan di Kota Pontianak—sebagai ibukota Provinsi Kalbar.
Tujuannya memang baik. Selain dijadikan asset budaya yang dapat dijual ke tingkat nasional maupun mancanegara, juga sebagai ajang untuk meningkatkan kreativitas generasi muda Dayak yang setiap tahunnya semakin banyak tinggal di Kota.
Karena jauh dari rumpun budaya aslinya, sebagai masyarakat urban yang tinggal di kota, mereka dituntut mamahami adat budayanya.
Dari pelaksanaan PGD dari tahun ke tahun rasanya itu-itu saja yang bisa dilaksanakan. Seperti upacara adat yang digilir menurut sanggar atau sub suku, display budaya, berbagai permaiann rakyat, memahat, melukis, stand yang menjaul berbagai pernak-pernik Dayak dan yang lebih bergengsi perebutan predikat Bujang dan Dara Gawai.
Kita mencatat, sejak awal digelar hingga hari ini, tidak ada hal baru yang bisa ditampilkan di ajang PGD tersebut.
Adalah tanggung jawab kita bersama, bagaimana supaya PGD kedepan lebih berkualitas dan bisa dijual ke luar. Kalau masih itu-itu saja yang diandalkan, rasanya agak sulit menarik minat orang luar, apalagi turis mancanegara.
Apalagi dari tahun ke tahun pelaksanaan PGD selalu minim promosi. Tidak ada upaya promosi lewat internet, website atau minimal weblog yang gratis itu.
Cara-cara promosi yang dilakukan masih konvensional saja, ya sebatas konferensi pers dengan mengandalkan media local. Dan hasilnya jauh dari target yang diharapkan.
Begitu pula dengan peran Bujang dan Dara Gawai yang bertitel sebagai Duta Budaya Dayak. Sejauh ini mereka belum bisa berbicara banyak di pentas nasional, apalagi mancanegara, rasanya masih sangat jauh.
Kedepan, kita berharap agar gawe PGD itu betul-betul mempunyai daya magnit bagi para pelancong, terutama mancanegara. Untuk bisa sampai ke sana, tak ada pilihan harus gencar melakukan promosi baik di dunia maya yang trend pemakainya makin tinggi dari hari ke hari oleh masyarakat di belahan dunia ini.
Karenanya Sekberkesda sebagai event organizer PGD harus punya inisiatif membuat website atau minimal weblog khusus mempromosikan gawai Dayak tersebut ke seluruh dunia.
Harapannya, kedepan mungkin ada cara lain bagi panitia untuk mencari dana, tidak hanya sekedar mengedarkan dan menunggu proposal masuk. Tapi ada tanggapan atau minat dari manusia lain di muka bumi ini yang sanggup membuat gawai Dayak atau PGD itu lebih semarak lagi, tentu dengan dana yang lebih besar yang berasal dari luar.
Apalagi sekarang pelaksanaan PGD sudah masuk kalendar pariwisata Kalbar, dan pelaksanaanya tetap setiap tahunnya yakni tanggal 20 Mei. Nah, kita semua berharap agar PGD itu kelak tidak lagi hanya sekedar kegiatan serimoni belaka, tapi bagaimana bisa bermanfaat baik dari segi ekonomi maupun pemasukan devisa bagi Negara, utamanya bagi daerah kita ini. Semoga!

Baca Selengkapnya..

Wednesday, May 20, 2009

Untan Membedah Krisis Global

Oleh TY

Krisis global memang menjadi isu seksi dan menarik semua kalangan. Krisis global yang melanda dunia dewasa ini, memang bisa mengancam semua sendi kehidupan. Seperti rusaknya tata kehidupan akibat perubahan iklim, hancurnya sebuah peradaban akibat runtuhnya moral manusia, hingga dampak yang tidak dapat diprediksi sekalipun.
Dampak yang bakal terjadi akibat krisis global itu sangat serius dan menakutkan. Dapat dikatakan, itulah hari kiamat bagi dunia.

Tanda-tandanya, kini sudah muncul di mana-mana di belahan bumi ini. Amerika dan sebagian Negara Eropa mengalami krisis keuangan global. Mesiko dan sebagian Negara Amerika Latin mengalami serangan virus H1N1 atau yang kita kenal dengan flu babi yang sebarannya sudah mendekati Negara kita.
Lalu di belahan dunia lain, ada bencana alam, baik karena ulah manusia yang merusak alam atau memang tanda-tanda alam mulai menua.
Selanjutnya di belahan dunia lain lagi, terjadi krisis moral. Pembunuhan, pemerkosaan dan perdagangan perempuan dan anak-anak. Parahnya lagi terjadi seks bebas yang bermuara pada mewabahnya penyakit kelamin mematikan seperti AIDS-HIV.
Jelas krisis global tersebut ancaman serius bagi peradaban manusia di dunia ini. Bila tidak dicegah sejak dini, bisa saja peradaban itu runtuh suatu ketika.
Melihat fenomena tersebut, Perguruan Tinggi yang selama ini sangat peka dan kritis mengaki berbagai kemungkinan akibat krisis global tersebut, maka Universitas Tanjungpura sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi mengambil peran ‘penyalamatan’ itu.
Para pakar yang ahli di bidangnya pun berkumpul di ruang sidang Rektorat Untan, Senin (19/5) membedah krisis global tersebut. Sekitar 200 peserta dari berbagai universitas ternada di Indonesia, Sarawak Malaysia dan Brunai Darussalam menghadiri acara yang bertajuk Konferensi Internasional dengan bahasan utama krisis global.
Rektor Universitas Indonesia, Prof Dr Gumilar R Soemantri mengatakan, perguruan tinggi akan menjadi faktor penentu kelangsungan peradaban dan manusia dalam menghadapi tantangan global yang semakin berat di masa mendatang.
Memang pada hakekatnya, dunia kampus berperan menciptakan masyarakat efisien, yaki adanya keadilan dan jaminan terhadap kelangsungan peradaban dimaksud.
Secara global, Indonesia menjadi bagian dari peradaban yang tengah menghadapi tangan serius kedepan.
Dari segi jumlah penduduk. Para ahli memprediksi akan terjadi ledakan penduduk pada suatu ketika. Padahal idealnya, bumi hanya bisa dihuni sekitar lima miliar jiwa. Tapi data penduduk dunia kini sudah mencapai 6,5 miliar jiwa.
Hal itu diungkapkan Gumilar R Soemantri, Rektor Universitas Indonesia, saat menjadi pembicara pada konferensi internasional "Kerjasama Antarnegara Dalam Menyikapi Krisis Global".
Tantangan lain yang harus dihadapi kita adalah, ancaman perang dengan menggunakan senjata mematikan seperti nuklir yang tidak diperbolehan dalam perang. Namun manusia tetap bernafsu mengembangkan senjata pemusnah missal itu.
Belum lagi efek rumah kaca yang mempercepat terjadi perubahan iklim. Iklim yang beubah-ubah itu dampaknya kepada makhluk hidup termasuk manusia. Muncul penyakit yang aneh-aneh.
Untuk menghadapi hal itu, kita butuh konsep baru mengenai pendidikan. "Konsep pembangunan perguruan tinggi, yang `smart education for building smart and sustainable society`, sebut Gumilar.
Dengan pendidikan yang bagus, maka setiap bangsa bisa mengembangkan system dan peradaban yang seimbang pula. Dengan demikian, ia pandai menjaga kelestarian lingkungan. Dan itu semua harus ditelorkan dari Perguruan Tinggi bagaimana menciptakan pendidikan yang mencerdaskan secara berjenjang dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Nah, disanalah digagas rumusan bagaimana menghadang ancaman krisis global tersebut. Muaranya, kehidupan dan peradaban tetap terjaga. Itulah esensinya.***

Baca Selengkapnya..